geografi lingkungan

Khoirunnas anfa'uhum linnas

Jumat, 30 Desember 2011

Analisis Dampak Lingkungan dan Analisis Resiko Lingkungan

  1. Analisis  Dampak Lingkungan
 Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) adalah kajian mengenai dampak besar dan penting suatu usaha dan/atau kegiatan yang direncanakan pada lingkungan hidup yang diperlukan bagi proses pengambilan keputusan tentang penyelenggaraan usaha dan/atau kegiatan di Indonesia. AMDAL ini dibuat saat perencanaan suatu proyek yang diperkirakan akan memberikan pengaruh terhadap lingkungan hidup di sekitarnya. Yang dimaksud lingkungan hidup di sini adalah aspek Abiotik, Biotik, danKultural. Dasar hukum AMDAL adalah Peraturan Pemerintah No. 32 Tahun 2009 tentang “Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup”.
Dokumen AMDAL terdiri dari :

"Menghitung Jejak Karbon (Carbon Footprint Calculation) Solusi Mandiri Migitasi Perubahan Iklim dan Kebencanaan di Indonesia"

Manusia dan Aktifitasnya = Masalah ?
(Sumbawa Barat Post) Sadar atau pun tidak, dalam setiap aktifitasnya, manusia selalu saja menghasilkan konsekuensi logis berupa energi sisa dari segala kegiatannya. Energi ini dapat berupa fositip mau pun negative yang berdasarkan Hukum Kekekalan Energi dikatakan bahwa “Energi tidak dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan, tetapi hanya dapat diubah dari satu bentuk ke bentuk yang lain”. Contoh dari energi fositip yaitu Bahan bakar Fosil (BBF), misalnya Bensin yang digunakan untuk menghasilkan energi pada kendaraan bermotor sehingga kendaraan bermotor dapat bekerja sebagaimana mestinya. Sementara contoh energi negativenya yaitu sisa pembakaran berupa Karbon Monoksida (CO), Karbondioksida (CO2), Nitrogen Oksida (NOx), dan lain sebagainya akan terakumulasi ke udara sebagai peristiwa penipisan lapisan ozon dan memberikan efek Gas Rumah Kaca (GRK).

Kamis, 29 Desember 2011

Geologi : Asal Usul Danau Toba

Danau toba sesungguhnya berasal dari sebuah letusan gunung berapi raksasa (supervolcano) yang terjadi 73 ribu tahun lalu. Letusan Toba ini adalah yang ketiga, dua letusan sebelumnya sudah pernah terjadi dalam jangka waktu 1 juta tahun. Letusan Toba yang
menciptakan danau Toba sekarang diperkirakan memiliki indeks Ledakan Vulkanis 8 (Mega Kolosal) sedemikian hingga membentuk kompleks kawah berukuran 3 ribu km persegi. 
Volume erupsi diperkirakan antara 2 ribu hingga 3 ribu km kubik magma dan 800 km kubiknya terendapkan sebagai abu vulkanis. Ukuran ledakannya adalah dua kali letusan gunung Tambora tahun 1815. Letusan gunung Tambora saat itu saja sudah cukup menghasilkan “Tahun Tanpa Musim Panas” di belahan bumi utara.

Semiologi

 
Secara etimologis, Semiologi (F. de Saussure) atau Semiotika (C.S. Pierce) berasal dari bahasa yunani yaitu "semeion" yang berarti tanda dan "seme" yang berarti penafsiran tanda. Maka dari itu, Semiologi adalah ilmu yang mempelajari sistem-sistem, aturan-aturan, konvensi-konvensi yang memungkinkan tanda-tanda itu mempunyai arti.
Klasifikasi Semiologi adalah sebagai berikut :

Pemetaan Bahaya Erupsi Gunung Api

Morfologi Merapi
Bencana merupakan peristiwa atau serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam, manusia dan/atau keduanya yang mengakibatkan korban dan penderitaan manusia, kerugian harta benda, kerusakan Lingkungan, kerugian sarana-prasarana, dan utilitas umum, serta menimbulkan gangguan terhadap tata kehidupan Dan penghidupan masyarakat. (UU 24 th 2007 ). Sedangkan bencana gunungapi adalah salah satu bencana alam yang disebabkan oleh letusan atau kegiatan gunungapi yang mengakibatkan kerusakan tata lingkungan hidup dan penderitaan manusia. (Mardiatno, 2010).

Satuan Pemetaan Tanah

Atas dasar komposisi satuan-satuan tanah yang ada di dalam satuan lahan yang digunakan sebagai satuan pemetaan,  maka dikenal 4 macam staun pemetaan tanah (SPT) yaitu :
  • Konsosiasi
Satuan pemetaan tanah konsosiasi didominasi oleh satuan tanah dan tanah yang serupa  (similiar soil unit). Dalam konsosiasi paling tidak memmpunyai 50% satu satuan tanah yang sama dan 25% satuan tanah yang serupa. SPT konsosiasi diberinama sesuai dengan satuan tanah yang dominan. Satuan tanah lain yang tidak sejenis dan serupa maksimal  mempunyai persentase 25%. Dua satuan tanah dikatakan sebagai tanah yang serupa apabila mereka hanya berbeda pada satu atau duua kriteria yang menyebabkan keduanya diklasifikasikan kedalam kelompok yanng berbeda. Secara uumum satuan satuan tanah yanng serupa mempunyai potensi yang hampir sama. Sedangkan dua satuan tanah dikatakan tidak serupa apabila keduanya mempunyai perbedaan yang tegas dan lebih dari tiga kriteria yang meenyebabkan keduanya diklasifikasikan ke dalam kelompok yang berbeda. Satuan-satuan tanah  yang tidak serupa mempunyai potensi terhadap penggunaan tertentu yang berbeda secara tegas.

Pembuatan Peta Satuan Lahan

Satuan lahan adalah bagian dari  lahan yang mempunyai karakteristik yang spesifik. Sembarang bagian dari lahan yang menggambarkan karakteristik lahan yang jelas dan nyata, tidak peduli bagaimana caranya dalam membuat batas-batasnya, dapat dipandang sebagai satuan lahan untuk evaluasi lahan. Namun demikian evaluasi lahan akan lebih mudah dilakukan apabila satuan lahan didefinisikan atas  kriteria0kriteria karakteristik lahan yang digunakan dalam evaluasi lahan. (FAO, 1990). Pembuatan peta satuan lahan dapat menggunakan pendekatan geomorfologi, yaitu dengan memperhatikan:

Bentuklahan Asal Proses Struktural

Bentuklahan asal proses struktural ini terbentuk karena adanya tenaga endogen yang mendorong lempeng samudra menunjam lempeng benua.
Zona Subduksi, dimana lempeng benua menunjam lempeng samudra.

Sifat-Sifat Fisik Mineral


Semua mineral mempunyai susunan kimiawi tertentu dan  penyusun atom-atom yang beraturan, maka setiap jenis mineral mempunyai sifat-sifat fisik/kimia tersendiri. Dengan mengenal sifat-sifat tersebut maka setiap jenis mineral dapat dikenal, sekaligus kita mengetahui susunan kimiawinya dalam batas-batas tertentu (Graha,1987)

Rabu, 28 Desember 2011

MENGGAGAS KONSERVASI LINGKUNGAN HIDUP DI SOLO


Kota Solo kini telah mendapatkan sosok pemimpin yang baru, yang diharapkan mampu membuat kebijakan yang dapat menguntungkan masyarakat kota Solo. Salah satu dari sekian banyak harapan yang ditujukan kepada bapak Walikota yang baru adalah masalah konservasi lingkungan hidup. Permasalahan lingkungan yang wajib ditangani secara serius untuk segera dilakukan konservasi adalah masalah air dan udara. Air dan udara adalah kebutuhan hidup yang sangat vital. Aktivitas sehari-hari kita membutuhkan air untuk minum, memasak maupun mandi dan udara (oksigen) untuk bernafas. 

AL- QURAN DAN HADIST TERBUKTI AMPUH MENJAGA KELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP


"Barangsiapa yang menyayangi walaupun terhadap binatang yang akan disembelih, maka ALLAH SWT akan menyayanginya pada hari Kiamat kelak." (#) 

Islam adalah Diin yang Syaamil (Integral), Kaamil (Sempurna) dan Mutakaamil (Menyempurnakan semua sistem yang lain), karena ia adalah sistem hidup yang diturunkan oleh Yang Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana, hal ini didasarkan pada firman ALLAH SWT : "Pada hari ini AKU sempurnakan bagimu agamamu dan AKU cukupkan atasmu nikmatku, dan AKU ridhai Islam sebagai aturan hidupmu." (QS. 5 : 3). Oleh karena itu aturan Islam haruslah mencakup semua sisi yang dibutuhkan oleh manusia dalam kehidupannya. 

Tidak ada satu celah pun dalam kehidupan seorang muslim yang tidak ditemui aturannya dalam Islam, dari sejak cara mengelola negara dan rakyat sampai dengan cara berbicara dan berjalan pun tak lepas dari rambu-rambu Sang Maha Teliti lagi Maha Mengurus Makhluq-NYA, lihatlah firman ALLAH SWT tentang cara berbicara dan berjalan dalam Kalam-NYA : "Maka sederhanakanlah kalian ketika berjalan dan rendahkanlah suara kalian (ketika berbicara)..." (QS. 31 : 19). 

Istilah-istilah dalam Lingkungan

BEBERAPA ISTILAH ILMU LINGKUNGAN


Lingkungan Hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelang-sungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain;

Pengelolaan Lingkungan Hidup adalah upaya terpadu untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup yang meliputi kebijaksanaan penataan, pemanfaatan, pengembangan, pemeliharaan, pemulihan, pengawasan, dan pengendalian lingkungan hidup

Selasa, 27 Desember 2011

5 Jenis hutan yang ada di Indonesia


Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki hutan yang luas di dunia. Luas hutan tersebut dulu mencapai 113 juta hektar dan terus berkurang drastis akibat kebodohan oknum pemerintah dan penjahat yang selalu haus uang dengan membabat dan menggunduli hutan demi mendapat keuntungan yang besar tanpa melihat dampak bagi lingkungan global. Brikut di bawah ini adalah pembagian macam-macam / jenis-jenis hutan yang ada di Negara Kesatuan Republik Indonesia disertai arti definisi dan pengertian :

Quote:
1. Hutan Bakau / Mangrove Hutan bakau adalah hutan yang tumbuh di daerah pantai . Contoh : pantai timur kalimantan, pantai selatan cilacap, dll. Hutan ini tumbuh khususnya di tempat-tempat di mana terjadi pelumpuran dan akumulasi bahan organik. Baik di teluk-teluk yang terlindung dari gempuran ombak, maupun di sekitar muara sungai di mana air melambat dan mengendapkan lumpur yang dibawanya dari hulu.
Spoiler for bakau
Nampak Hutan Bakau yang alami. Hutan ini tumbuh di atas rawa-rawa berair payau yang terletak pada garis pantai dan dipengaruhi oleh pasang-surut air laut.
Spoiler for bakau
 Hutan bakau merupakan tempat yang fantastis untuk kehidupan berbagai macam fauna. Untuk bersembunyi para ikan dan untuk bersarang berbagai macam burung.
Spoiler for bakau
Keanekaragaman(Diversity) hutan bakau di indonesia adalah yang paling tinggi dan menakjubkan di dunia.
Spoiler for bakau
Quote:
2. Hutan Sabana Hutan sabana yakni padang rumput yg luas dengan jumlah pohon yg sedikit dengan curah hujan yg rendah. Contoh : Nusa tenggara. Berdasarkan jenis tumbuhan yg menyusunnya, sabana dibedakan menjadi dua, yaitu sabana murni & campuran.
Spoiler for sabana
 Hutan ini dtumbuhi oleh semak belukar & diselingi oleh padang rumput
Spoiler for sabana
Curah hujan di hutan ini mencapai 1.000 mm sehingga tumbuhan melakukan adaptasi dg membentuk duri-duri.
Spoiler for sabana
Tampak sabana yang ditumbuhi rumput-rumput yg menguning
Quote:
3. Hutan Rawa Hutan rawa adalah hutan yang berada di daerah berawa. Hutan rawa terdapat di hampir semua pulau, terutama Sumatera, Kalimantan, dan Papua. Spesies pohon rawa misalnya nyatoh (Palaquium leiocarpum), kempas (Koompassia spp), dan ramin (Gonystylus spp). Contoh : Papua selatan, Kalimantan, dsb.
Spoiler for rawa
Nampak sebuah hutan dengan dikelilingi rawa-rawa.
Spoiler for rawa
 Hutan seperti ini adalah hutan yang disebut sebagai Hutan Rawa Air
Spoiler for rawa
 Terlihat banyak burung yang berterbangan di hutan rawa gambut.
Quote:
4. Hutan Hujan Tropis Hutan hujan tropis adalah hutan lebat / hutan rimba belantara yg tumbuh di sekitar garis khatulistiwa / ukuator yg memiliki curah turun hujan yg sangat tinggi. Hutan jenis yg satu ini memiliki tingkat kelembapan yg tinggi, bertanah subur, humus tinggi & basah serta sulit untuk dimasuki oleh manusia. Hutan ini sangat disukai pembalak hutan liar & juga pembalak legal jahat yg senang merusak hutan & merugikan negara trilyunan rupiah. Contoh : hutan kalimantan, hutan sumatera, dsb.
Spoiler for tropis
 Hutan ini berwarna hijau dan merupakan Hutan yg paling banyak di jumpai di Indonesia
Spoiler for tropis
 Hutan Hujan Tropis merupakan surga bagi flora & fauna. Hutan hujan tropis juga dijuluki sebagai "farmasi terbesar dunia" karena hampir 1/4 obat modern berasal dr tumbuhan di hutan hujan ini
Quote:
5. Hutan Musim Hutan musim adalah hutan dg curah hujan tinggi namun punya periode musim kemarau yang panjang yg menggugurkan daun di kala kemarau menyelimuti hutan.
Spoiler for musim
Pohon-pohonnya tahan dr kekeringan & termasuk tumbuhan tropofit, artinya mampu beradaptasi trhadap kering & keadaan
Quote:
Di samping itu hutan terbagi / dibagi berdasarkan fungsinya, yaitu : 1. Hutan Wisata 2. Hutan Cadangan 3. Hutan Lindung 4. Hutan Produksi / Hutan Industri
PETA HUTAN 

MEMBANGKITKAN KEMBALI EKONOMI INDONESIA

Kemandirian harus dijadikan tolok ukur keberhasilan, yakni apakah rakyat atau masyarakat menjadi lebih mandiri (baca: bebas) atau malah semakin bergantung. Misalnya, apakah petani kita lebih bebas atau malah semakin bergantung pada basil industri (seperti pupuk), apakah industri kita lebih bebas atau malah semakin bergantung pada bahan baku impor, atau apakah negara kita lebih mampu memupuk modal atau malah semakin bergantung pada utang luar negeri. Jika Indonesia mandiri mengelola kekayaannya, rakyat Indonesia bisa lebih makmur minimal 5 kali lipat daripada sekarang.

Satuan Bentuklahan Asal Proses Fluvial/Aliran Sungai (F)

Bentuklahan asal proses fluvial terbentuk akibat aktivitas aliran sungai yang berupa pengikisan, pengangkutan dan pengendapan (sedimentasi) membentuk bentukan-bentukan deposisional yang berupa bentangan dataran aluvial (Fda) dan bentukan lain dengan struktur horisontal, tersusun oleh material sedimen berbutir halus. Bentukan-bentukan ini terutama berhubungan dengan daerah-daerah penimbunan seperti lembah-lembah sungai besar dan dataran aluvial. Bentukan-bentukan kecil yang mungkin terjadi antara lain dataran banjir (Fdb), tanggul alam (Fta), teras sungai (Fts), dataran berawa (Fbs), gosong sungai (Fgs) dan kipas aluvial (Fka). Asosiasi antara proses fluvial dengan marin kadang membentuk delta (Fdt) di muara sungai yang relatif tenang. Beberapa hal proses-proses fluvial seperti pengikisan vertikal maupun lateral dan berbagai macam bentuk sedimentasi sangat jelas dapat dilihat pada citra atau foto udara.

Bentuklahan Asal Proses Vulkanisme II


 Bentuklahan vulkanik secara sederhana dibagi menjadi 2, yaitu bentuk-bentuk eksplosif (krater letusan, ash dan cinder cone) dan bentuk-bentuk effusif (aliran lava/lidah lava, bocca, plateau lava, aliran lahar dan lainnya) yang membentuk bentangan tertentu dengan distribusi di sekitar kepundan, lereng bahkan kadang sampai kaki lereng. Struktur vulkanik yang besar biasanya ditandai oleh erupsi yang eksplosif dan effusif, yang dalam hal ini terbentuk volkanostrato. Erupsi yang besar mungkin sekali akan merusak dan membentuk kaldera yang besar. Kekomplekkan terrain vulkanik akan terbentuk bila proses-proses yang non-vulkanik berinteraksi dengan vulkanisme. Proses patahan yang aktif akan menghasilkan erupsi linier dan depresi volkano-tektonik. Satuan bentuklahan vulkanik dapat dikelompokkan lagi menjadi satuan-satuan yang lebih kecil, dan sebagai contoh penyimbulannya antara lain : satuan kepundan (VK), satuan kerucut parasiter (VKp), satuan lereng vulkan (VL), satuan kakilereng gunungapi (VLk) dan satuan dataran fluvial gunungapi (VDk).

Bentuklahan Asal Proses Vulkanisme I

Vulkanisme adalah semua fenomena yang berkaitan dengan proses gerakan magma dari dalam bumi menuju ke permukaan bumi yang menghasilkan bentuklahan yang cenderung positif.
Adapun beberapa contoh dari bentuklahan ini adalah :
1. Dike

Geomorfologi : Bentuklahan Denudasional


G.1. Badland
Proses denudasi merupakan proses yang cenderung mengubah bentuk permukaan bumi yang disebut dengan proses penelanjangan. Proses yang utama adalah degradasi berupa pelapukan yang memproduksi regolit dan saprolit serta proses erosi, pengangkutan dan gerakan massa. Proses ini lebih sering terjadi pada satuan perbukitan dengan material mudah lapuk dan tak berstruktur. Proses degradasi menyebabkan agradasi pada lerengkaki perbukitan menghasilkan endapan koluvial dengan material tercampur. Kadang proses denudasional terjadi pula pada perbukitan struktur dengan tingkat pelapukan tinggi, sehingga disebut satuan struktural denudasional.

KONSEP DASAR GEOMORFOLOGI

Ada sembilan aspek yang perlu dipahami dalam memperlajari Geomorfologi (Thornbury, 1954), yaitu :
  1. Proses Geomorfik yang bekerja pada masa geologi juga bekerja sekarang. The present is the key to the past
  2. Struktur geologi merupakan faktor pengontrol yang dominan dalam evolusi bentuk lahan, dan struktur geologi discerminkan oleh ben tuklahannya.
  3. Proses Geomorfologi meninggalkan bekas tertentu pada  bentuk lahan dan setiap proses geomorfologi yang bekerja meninggalkan karakteristik tertentu  pada masing-masing perkembangannya.
  4. karena perbedaan tenaga erosi yang bekerja pada permukaan bumi, maka dihasilkan urutan  bentuk lahan yang mempunyai karakteristik tertentu pada masing-masing tahap perkembangannya.
  5. Evolusi Geomorfik yang kompleks lebih umum dibandingkan dengan evolusi geomorfik yang sederhana.
  6. Sebagian kecil bentukan di permukaan bumi lebih tua dari Tersier dan sebagian besar lebih muda dari pleistosen.
  7. Studi bentang lahan yang ada sekarang tidak akan  berhasil dengan baik  jika tidak memperhatikan perubahan-perubahan geologi dan iklim dimasa lampau.
  8. Apresiasi iklim dunia diperlukan untuk mengetahui berbagai variasi pentingnya perbedaan proses geomorfologi.
  9. Walaupun geomorfologi menekankan bentukan yang ada sekarang, namun untuk mengetahui secara mendalam perlu dipelajari sejarah pembentukan bentuk lahan tersebut. (Thornbury, 1954)

Senin, 26 Desember 2011

Geologi Daerah Perbukitan Jiwo – Bayat

Daerah Bayat terletak sekitar 45 Km tenggara Yogyakarta. Di daerah Bayat kelompok batuandasar Pra-Tersier yang tersingkap terdiri dari filit, sekis mika, dan marmer. Umur komplek batuandasar ini belum diketahui. Sebaran batuan Pra-Tersier di Bayat yang terdapat di Perbukitan Jiwo terbagi dua oleh aliran K. Dengkeng, daerah sebelah timur K. Dengkeng disebut Jiwo Timur dan yang di sebelah baratnya disebut Jiwo Barat seperti yang ditunjukkan oleh peta geologi Bayat (Gambar-1). Stratigrafi daerah Bayat dan sekitarnya dapat dilihat pada Gambar-2 (strat Bayat dskt).
Gambar 1. Peta Geologi Daerah Bayat (Prasetyadi 2007)
Gambar-2: Kronostratigrafi Jawa Tengah selatan (termasuk Bayat)(Prasetyadi & Indranadi, 2007).

SEJARAH TEKTONIK PULAU JAWA

Pemekaran Lantai Samudera Hindia
Pulau Jawa berada di tepi tenggara Daratan Sunda (Sundaland). Pada Daratan Sunda ini terdapat dua sistem gerak lempeng; Lempeng Laut Cina Selatan di utara dan Lempeng Samudera Hindia di selatan. Lempeng Laut Cina Selatan bergerak ke tenggara sejak Oligosen (Longley, 1997), sedangkan Lempeng Samudera Hindia yang berada di selatan bergerak ke utara sejak Mesozoikum dan menunjam ke bawah sistem busur kepulauan Sumatra dan Jawa (Liu dkk., 1983). 

Untuk Pulau Jawa, yang terbesar pengaruhnya adalah sistem gerak Lempeng Samudera Hindia. Oleh karena itu dalam mempelajari evolusi tektonik Pulau Jawa perlu dipahami perkembangan pemekaran lantai Samudera Hindia dari waktu ke waktu.
Rekonstruksi skematis perkembangan tektonik jawa eosen-tengah (Prasetyadi, 2007)

Geologi Cekungan Jawa

Berbicara mengenai petroleum geology di daerah jawa maka nantinya akan dijumpai berbagai cekungan yang ada di sepanjang pulau ini. Dari beberapa cekungan tersebut ada yang telah di lakukan eksplorasi dan ada yang belum atau sedang dalam proses penelitian. Untuk wilayah cekungan di pulau jawa ini pada umumnya dibagi menjadi lima daerah cekungan, antara lain akan dijabarkan sebagai berikut :

KERANGKA TEKTONIK DAN PERKEMBANGAN STRUKTUR CEKUNGAN SUMATRA SELATAN

Kerangka Tektonik Sumatra
Pulau Sumatra terletak di baratdaya dari Kontinen Sundaland dan merupakan jalur konvergensi antara Lempeng Hindia-Australia yang menyusup di sebelah barat Lempeng Eurasia/Sundaland. Konvergensi lempeng menghasilkan subduksi sepanjang Palung Sunda dan pergerakan lateral menganan dari Sistem Sesar Sumatra.
Gambar Pembentukan Cekungan Belakang Busur di Pulau Sumatra (Barber dkk, 2005).
Gambar 1. Pembentukan Cekungan Belakang Busur di Pulau Sumatra (Barber dkk, 2005).

Geologi Pegunungan Selatan

1. Fisiografi dan Geomorfologi Regional
Menurut Van Bemmelen ( 1949, hal. 596), Pegunungan Kulon dilukiskan sebagai dome besar dengan bagian puncak datar dan sayap-sayap curam, dikenal sebagai “Oblong Dome”. Dome ini mempunyai arah utara timur laut – selatan barat daya, dan diameter pendek 15-20 Km, dengan arah barat laut-timur tenggara.
Sketsa Fisografi Jawa (Van Bemmmelen, 1949) dan Citraan Landsat (SRTM NASA, 2004)
Gambar Sketsa Fisografi Jawa (Van Bemmmelen, 1949) dan Citraan Landsat (SRTM NASA, 2004)

Danau Tapal Kuda (Oxbow Lake)

Oxbow lake atau danau tapal kuda merupakan danau yang terbentuk  bila sungai yang berkelok-kelok atau sungai meander melintasi daratan mengambil jalan pintas dan meninggalkan potongan-potongan yang akhirnya membentuk danau tapal kuda. Oxbow lake terbentuk dari waktu ke waktu sebagai akibat dari erosi dan sedimentasi dari tanah disekitar sungai meander.

The courses of a river

Jika kita mengikuti alur suatu sungai secara lengkap dari atas di bagian hulu, sampai di bawah di bagian muaranya, maka kita akan melihat bentuk sungai yang berbeda beda dari satu tempat ke tempat yang lain. Walaupun ternyata itu merupakan satu alur sungai yang sama.

Faktor Penyebab Longsor

Ketika gaya gravitasi lebih besar dari resistensi lereng untuk bertahan, maka terjadilah longsor. Gaya penahan (resisting forces) yang membantu mengontrol kestabilan lereng meliputi kekuatan (strength)dan kohesi (cohession) material lereng, friksi antar butiran dan pendukung eksternal lereng lain. Faktor-faktor kolektif ini disebut sebagai shear strength.

Danau ( Lake )

Danau adalah ceruk atau cekungan pada permukaan bumi yang berisi air. Danau yang luas kadang kala dinamakan laut: misalnya Laut Kaspia dan Laut Aral. Ada banyak sekali tipe danau, dan umumnya dikelompokkan menurut asal usulnya. Sejumlah besar danau di dunia terbentuk oleh gletser dan lembaran es. Beberapa danau terbentuk oleh angin atau air hujan, sedang lainnya aleh gerakan bumi atau kegiatan vulkanik. Danau sangat berbeda-beda ukuran dan dalamnya, tergantung pada cara terbentuknya.

Morfologi Spesifik Karst

Bentukan alam karst berbeda dengan bentuk alam lainnya (non karst), karena kawasan karst memiliki komponen diatas permukaan tanah atau disebut Eksokarst, dan komponen dibawah tanah yang disebut Endokarst.

Pengaruh Erupsi Gunung Api terhadap Karstifikasi batuan

Pelarutan Batu Gamping Prawoto (2001) dan Kiraly (2003) menyatakan bahwa hujan asam yang terjadi di suatu daerah batugamping dapat menyebabkan proses pelarutan pada batugamping tersebut dan akan menghasilkan larutan gamping (CaCO3) dengan kepekatan tertentu sesuai dengan kepekatan hujan asam. Larutan gamping tersebut suatu saat akan mengalami kristalisasi dan presipitasi menjadi bentukan-bentukan endokarst dan eksokarst. Proses tersebut dikenal sebagai karstifikasi.
Erupsi Merapi menghasilkan debu dan gas

Tatanan Tektonik Pulau Jawa

Perkembangan tektonik pulau Jawa dapat dipelajari dari pola-pola struktur geologi dari waktu ke waktu. Struktur geologi yang ada di pulau Jawa memiliki pola-pola yang teratur. Secara geologi pulau Jawa merupakan suatu komplek sejarah penurunan basin, pensesaran, perlipatan dan vulkanisme di bawah pengaruh stress regime yang berbeda-beda dari waktu ke waktu.

Pengenalan Gerakan Tanah

Jenis tanah pelapukan yang sering dijumpai di Indonesia adalah hasil letusan gunungapi. Tanah ini memiliki komposisi sebagian besar lempung dengan sedikit pasir dan bersifat subur. Tanah pelapukan yang berada di atas batuan kedap air pada perbukitan/punggungan dengan kemiringan sedang hingga terjal berpotensi mengakibatkan tanah longsor pada musim hujan dengan curah hujan berkuantitas tinggi. Jika perbukitan tersebut tidak ada tanaman keras berakar kuat dan dalam, maka kawasan tersebut rawan bencana tanah longsor.  
Peta Zona Kerentanan Tanah Longsor Indonesia

Karakteristik DAS dan Pengelolaannya

Definisi DAS
Daerah Aliran Sungai (DAS) secara umum didefinisikan sebagai suatu hamparan  wilayah/ kawasan yang dibatasi oleh pembatas topografi (punggung bukit) yang menerima, mengumpulkan air hujan, sedimen dan unsur hara serta mengalirkannya melalui anak-anak  sungai dan keluar pada sungai utama ke laut atau danau. Linsley (1980) menyebut DAS  sebagai “A river of drainage basin in the entire area drained by a stream or system of connecting streams such that all stream flow  originating in the area discharged through a single outlet”.